Tuesday, April 19, 2011

Dengarkanlah dengan Seksama Pesan Allah

Yesaya 20:1-21:10

Mari bernostalgia semasa sekolah… Apa yang kita lakukan ketika mendengar Bapak/Ibu Guru kita berkata, “Ayo anak-anak… semuanya duduk!”? Apa yang kita lakukan ketika Bapak/Ibu Guru kita berkata, “Ayo semuanya diam!”? Sebagian dari kita bersedia mendengarkan perkataan dari Bapak/Ibu Guru dan segera melakukannya, namun sebagian dari kita tidak menghiraukan. Maklum anak sekolah… Nah, kira-kira apa yang menjadi alasan kita, yang dulu pernah atau bahkan sering tidak menghiraukan perkataan Bapak/Ibu Guru? "Wujud" Bapak/Ibu Guru yang jelas-jelas tertangkap indra penglihatan saja tidak dihiraukan... bagaimana dengan Tuhan Allah yang tidak tertangkap oleh indra penglihatan kita??!! 

Tema pembelajaran kita bersama pada hari ini, yaitu “Dengarlah dengan Seksama Pesan Allah”. Mengapa tema ini diangkat? Apakah dalam kehidupan keseharian kita selama ini, kita kurang atau bahkan tidak mendengar pesan Allah? Lalu, bagaimana caranya agar dapat mendengarkan pesan Allah? Bagaimana caranya agar dapat mendengarkan pesan Allah secara seksama, bukan hanya mendengar sepintas lalu?
    
Perikop panjang (Yesaya 20:1-21:10) sebenarnya berbicara atau menceritakan tentang apa sich? Perikop tersebut menceritakan bagaimana nabi Yesaya memperingatkan Yehuda agar jangan minta pertolongan dari Mesir yang pada waktu itu didominasi oleh Etiopia, karena Mesir dan Etiopia akan direndahkan dan dipermalukan oleh tentara Asyur. Nah, tapi… apakah peringatan yang diserukan oleh Yesaya didengarkan Yehuda? Tidak… Yehuda tidak mendengarkannya… dan apa akibat dari tidak didengarnya seruan Yesaya tersebut? Mari kita belajar mendengar dengan seksama pesan Allah melalui seruan Yesaya pada Yehuda…   

Asdod adalah sebuah bangsa yang tinggal dekat pantai sebelah barat Yehuda. Pada tahun 713 sM, dengan sokongan Mesir, mereka memberontak dan melawan Asyur. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Asyur. Kemudian Asyur menempatkan seorang raja “boneka” untuk memimpin Asdod. Tetapi raja “boneka” ini ditolak oleh rakyatnya. Mereka justru mengangkat Yamin menjadi raja bagi Asdod. Hal ini menimbulkan kemarahan Asyur. Tahun 711 sM, raja Sargon mengirim panglimanya untuk menghukum Asdod. Raja Yamin melarikan diri dan mencari perlindungan ke Mesir, namun di kemudian hari, raja Yamin dikhianati dan diserahkan ke tangan raja Sargon. Pada waktu raja Sargon menumpas pemberontakan di Asdod, orang-orang Asdod mengirim utusan kepada raja Hizkia untuk mengajaknya bergabung dan memberontak kepada Asyur. Sama seperti jaman raja Ahas, nabi Yesaya menasihati raja Hizkia untuk tidak bergabung dan tidak meminta bantuan Mesir dalam melawan Asyur. Akan tetapi nasihat ini ditolak oleh Hizkia. Inilah yang membuat nabi Yesaya berkabung dengan memakai kain kabung. Dalam kehidupan kita yang sarat akan persoalan hidup, seberapa sering kita berupaya keras untuk memikirkan dan merancangkan jalan keluar ataupun solusi bagi setiap persoalan hidup kita? Wah saking seringnya, sampai-sampai tidak lagi mampu terhitung atau bahkan tidak lagi mampu untuk diingat… Mari kita bertanya dalam diri sejenak, siapa sajakah yang ikut berperan dalam proses memikirkan dan merancangkan jalan keluar ataupun solusi bagi persoalan hidup kita? Pasangan kita kah? Orangtua kita kah? Anak-anak kita kah? Sahabat kita kah? Apa saja yang pernah mereka utarakan atau ungkapkan pada kita? Masih ingatkah kita dengan apa saja yang mereka utarakan atau ungkapkan? Wah boro-boro diingat, wong cuman saya dengarkan sepintas lalu… lha pendapatnya ngga masuk akal… lha pandangannya tidak sesuai dengan pandangan saya… lha usulannya justru malah merugikan saya… dst… Kita mengetahui dan bahkan sadar sesadar-sadarnya bahwa Tuhan mampu menempatkan dan memakai orang-orang di sekeliling kita untuk mengingatkan kita, untuk menasihati kita, untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan yang baik, namun… apa yang kita lakukan? Kita hanya sebatas tahu dan sadar, namun kita kurang memiliki kesediaan, kurang memiliki kerendahan hati untuk benar-benar mendengarkan perkataan orang-orang di sekitar kita. Dengan penuh kepercayaan diri kita menilai pandangan ataupun nasihat orang lain tidak lebih baik dari yang telah kita pikirkan… Dengan penuh arogansi kita menganggap pemikiran kita lah yang paling tokcer, sehingga kalaupun kita berkeluh kesah terhadap orang-orang di sekitar kita, itu hanyalah kita anggap sebagai kesempatan untuk menumpahkan perasaan, tidak lebih dari itu… Dan celakanya, ketika persoalan kita tak kunjung usai, atau bahkan makin menumpuk dengan persoalan-persoalan yang lain, kita menyalahkan orang lain sebagai penyebab dari kesusahan kita… kita menyalahkan orang lain tidak memiliki kepedulian ataupun empati pada kita… bahkan kita menyalahkan Tuhan yang kita anggap tidak mengulurkan tanganNya pada kita untuk menolong… Hehe, saya kan masih manusia… jadi wajar lah kalo demikian… jadi maklum lah kalo demikian… Itulah kecenderungan kita… ketika kita menyadari letak ketidak-beresan diri kita, kita pasti membenarkan diri dengan beragam alasan… itulah kecenderungan kita… Apakah kecenderungan kita yang demikian merupakan kecenderungan yang mutlak tidak baik untuk dimiliki? Lantas… adakah kecenderungan lain yang paradoks dengan ini, sehingga paling tidak mampu kita anggap memberikan inspirasi bagi sikap hidup yang lebih baik?      

Kita perhatikan ayat-ayat berikutnya (ayat 2 dst). Ditinjau dari kata Ibrani, kata “telanjang” mempunyai arti: tidak memakai busana apapun, tidak memakai senjata apapun, tidak memakai baju luar atau baju kebesaran jika ia adalah seorang raja atau seorang kaya. Jadi kata “telanjang” bisa berarti: (1) Nabi Yesaya tidak memakai baju luar. Ia hanya memakai baju dalam. (2) Nabi Yesaya berjalan dengan telanjang tanpa busana sama sekali. Hal ini sangat mungkin dilakukannya mengingat tujuan tindakan ini adalah untuk memberitahu bahwa Mesir dan Etiopia akan dipermalukan. Berapa lama nabi Yesaya telanjang? Nabi Yesaya melakukannya hanya beberapa saat saja. Jika hal itu dilakukan selama 3 tahun setiap harinya maka tindakan tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa, dan sebagai sebuah tindakan simbolik tidak lagi menarik perhatian masyarakat. Maksud dari tindakan simbolis yang dilakukan oleh nabi Yesaya adalah bahwa Tuhan akan memperlakukan orang Mesir dan orang Etiopia sama persis seperti apa yang dilakukan oleh nabi Yesaya. Mereka akan digiring sebagai tawanan dan sangat dipermalukan. Pada ayat yang ke-6, yang disebut sebagai “orang” dalam ayat ini adalah bangsa Yehuda, sedang yang disebut sebagai “penduduk tanah pesisir” adalah penduduk Asdod. Mereka semua akan merasa malu dan terkejut, karena bangsa yang mereka andalkan untuk melawan Asyur akan dikalahkan. Seruan putus asa pada ayat ke 6 ini akan diserukan kepada Yehuda dan Asdod, karena mereka mengandalkan manusia. Manusia… diciptakan oleh Allah dengan sempurna, menurut gambar dan rupa Allah… Kita memiliki perangkat paling canggih, lebih canggih dari teknologi apapun di masa kini… yakni… kita memiliki otak… dengan kemampuan olah pikir yang luar biasa… Siapa sich di antara kita yang tidak berbangga dengan otak yang kita miliki? Bahkan dalam proses dan tahap-tahap keberimanan kita kepada Allah pun, kita tetap memberi tempat pada otak kita… Namun… kemampuan olah pikir kita juga membuat kita menilai segala sesuatunya sebagai hal-hal yang perlu untuk dibuktikan kebenarannya. Kita berupaya melogiskan segala sesuatu… dan bahkan kita hanya mempercayai apa yang terlihat oleh indra penglihatan kita… apa yang dapat dirasakan oleh panca indra kita… Oleh karena itu, kita pun memiliki kecenderungan untuk mengandalkan kekuatan, kuasa, pengaruh dari yang tertangkap oleh panca indra kita, yakni sesama manusia… Kecenderungan yang kedua ini seakan paradoks atau bertentangan dengan kecenderungan yang pertama, dimana kita tidak mempercayai sumbangsih pemikiran yang orang lain berikan pada kita. Namun… sebenarnya keduanya bukan paradoks, namun seperti dua sisi pada satu keping uang logam. Keduanya merupakan kecenderungan yang tidak terpisahkan. Kecenderungan kita untuk mengandalkan kuasa, pengaruh, dan kekuatan manusia secara mutlak, ternyata menggeser kesempatan dan kemampuan kita untuk mengandalkan kuasa, pengaruh, dan kekuatan dari Tuhan Allah… Seberapa sering kita mengandalkan kekuatan manusia ketika kita berada dalam posisi yang terjepit? Seberapa sering kita merasa tidak lagi sanggup menghadapi kehidupan yang berat menekan? Seberapa sering kita berpikir tidak ada lagi jalan keluar ataupun solusi bagi segala persoalan hidup kita? Barangkali kita telah mengandalkan atau bersandar pada Tuhan Allah… Namun, mari kita jujur sejujur-jujurnya, bagaimana bila dari hari ke hari ternyata bukannya mendapatkan pertolongan berupa jalan keluar, malah persoalan makin bertambah, makin terasa berat, makin kompleks, makin ruwet, apakah kita tetap akan bersyukur untuk kesempatan bagi kita dapat bersandar pada Tuhan? Hehe… tentu tidak, yang ada malah protes habis-habisan pada Tuhan, mempertanyakan mengapa semua ini terjadi, mempertanyakan keberadaan Tuhan sebagai sandaran hidup kita, dst… Lantas… mana pesan Allah di tengah situasi yang menekan seperti ini? Mana pesan Allah di tengah kesulitan hidupku? Mana? Kok kayaknya bukan pertolongan yang aku dapatkan, tapi malah setumpuk persoalan yang makin hari makin menumpuk setinggi gunung…               

Puting beliung di tanah Negeb (tanah di bagian Selatan Palestina yang terdiri dari padang gurun yang kering) memang sangat dahsyat, karena angin puting beliung ini menerbangkan butir-butir pasir panas yang menimbulkan banyak kerusakan dan korban. Kata-kata nabi Yesaya ini ingin mengingatkan bahwa ucapan Ilahi berisi sesuatu yang mengerikan, akan ada banyak kerusakan dan korban. Menjelang kejatuhan bangsa Babel, bangsa-bangsa lain mulai memberontak, penjarahan terjadi di mana-mana dan Babel dikepung oleh Bangsa Elam dan Madai. Penglihatan tentang kerusakan dan kengerian yang akan dialami Babel begitu menakutkan, sehingga nabi Yesaya yang menerima penglihatan ini pun merasakan sakit fisik yang tidak terkira, seperti orang melahirkan. Sakit yang tidak terperi itu membuat nabi Yesaya tidak sadarkan diri. Dapat dibayangkan betapa kerusakan dan kengerian yang akan dialami oleh Babel begitu menakutkan… begitu menyakitkan… Sudah tidak ada lagi kebiasaan-kebiasaan yang menyenangkan yang dapat dilakukan pada masa itu. Malam hari, yang seharusnya menjadi saat di mana orang beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, menjadi malam teror yang menakutkan. Keadaan istana, yang biasanya penuh dengan pesta pora, menjadi keadaan yang menegangkan dengan bersiaga penuh untuk menghadapi serangan musuh. Barangkali itulah yang sedang kita rasakan, atau mungkin pernah kita rasakan… Persoalan hidup yang menekan dan membuat kita benar-benar terjepit… tidak ada lagi saat-saat menyenangkan walau sebentar saja… Sepertinya detik demi detik merupakan momok bagi kita… yang terus mengingatkan kita bahwa persoalan kita segera menuntut jalan keluar atau solusi, kalau tidak, habislah kita… Tuhan memerintahkan agar nabi Yesaya menempatkan seorang pengintai yang bertugas untuk mengawasi kalau-kalau ada utusan yang datang memberitahukan kemenangan Babel. Dan utusan itu pun akhirnya datang. Bukan untuk memberitahu tentang kemenangan tentara Babel, tetapi justru memastikan bahwa Babel sudah jatuh ke tangan musuh. Waduh, jangan sampai lah nasib saya seperti itu… Saya ndak kepengen hasil akhirnya ternyata… saya ndak memenangkan persoalan hidup saya…   Nabi Yesaya menegaskan kepada pendengarnya bahwa apa yang ia sampaikan sungguhlah berasal dari Allah Israel yang menguasai semesta alam. Secara implisit seruan ini juga mengingatkan Israel dan Yehuda bahwa Tuhan mengetahui secara tepat apa yang akan dialami Babel. Bagaimana dengan kita, kalau ternyata pada akhirnya kita tidak memenangkan persoalan hidup kita, kita harus bagaimana? Kita merasa kecewa, pasti… bahkan mungkin kita merasa frustasi, depresi… dan lunglai-lesu untuk menjalani kehidupan… itu manusiawi… Oleh karena itu, ajakan untuk kita sekalian… Mari dengan rendah hati kita bersedia membuka diri, membuka lebar-lebar mata hati, pikiran kita, untuk mendengar pesan Allah dengan seksama… (1) Melalui perkataan, nasihat, usulan, pandangan, pertimbangan, pendapat orang-orang di sekitar kita dan (2) dengan tetap mempercayakan kehidupan kita seutuhnya dan seluruhnya pada Sang Sumber Kehidupan, yaitu Allah sendiri… tidak ada kata terlambat… Allah kita adalah Allah yang sanggup memulihkan keadaan kita… bagaimanapun terperosoknya keadaan kita saat ini… bagaimanapun menyedihkannya kondisi kita saat ini… bagaimanapun lemahnya diri kita ini… Berpengharapanlah hanya kepada Sang Sumber Kehidupan, karena Sang Sumber Kehidupan tidak akan pernah mengecewakan...

Ajaib kau Tuhan… penuh kuasa…
Sanggup pulihkan keadaanku…
Dalam tanganMu s’luruh hidupku…
tak akan goyah selamanya…

Bromo 10 – Madiun
19 April 2011 pk 13:48 WIB
Erchia Chara

Wednesday, April 13, 2011

Nich Pipi Kiriku juga...

Matius 5:38-48


Ketika hatiku t’lah disakiti
Ajar ‘ku mengerti arti mengampuni
Ketika hidupku t’lah dihakimi
Ajar ‘ku memberi hati mengasihi

Sebuah lagu pop rohani yang populer dan bahkan familiar bagi kita semua. Sebuah lagu yang memiliki lirik sempurna. Mengapa? Lirik lagu tersebut mampu membawa kita pada kesadaran bahwa demikianlah adanya di dunia ini, ada waktu dimana hati kita disakiti, ada waktu dimana hidup kita dihakimi. Itu adalah realita kehidupan yang tidak mampu untuk disangkal dan bahkan tidak mampu untuk dihindari. Namun lirik lagu tersebut juga menunjukkan pentingnya pengampunan, pentingnya memberi hati mengasihi. Apa buktinya? Kita meminta pada Tuhan untuk mengajari kita mengampuni, tentu agar kita mengerti arti mengampuni ketika hati kita telah disakiti. Kita meminta pada Tuhan untuk mengajari kita mengasihi, tentu agar kita memberi hati mengasihi ketika hidup kita telah dihakimi. Seberapa sering kita mengalami realita yang tidak mengenakkan dan membuat kita meminta kepada Tuhan untuk mengajari kita mengampuni dan mengasihi? Namun juga seberapa sering kita berpikir atau merasa bahwa kita tidak cukup mampu untuk melakukannya walaupun kita tahu bahwa Tuhan telah mengajarkan pada kita arti pengampunan dan mengasihi tiada batas. “Aku ini manusia biasa, bukan malaikat, apalagi Tuhan…” sebuah contoh kalimat dari sekian banyak kalimat lain yang sering kita ucapkan, yang sebenarnya tergolong dalam upaya pembenaran diri dari tetap berlakunya pembalasan dendam, tetap berlakunya sikap dan tindakan membenci sesama yang membenci kita. Apakah sikap dan tindakan pembalasan dendam, apakah sikap dan tindakan membenci sesama yang terlebih dahulu membenci kita, merupakan hal-hal yang kita anggap sebagai hal-hal yang wajar untuk terjadi? Sebagai hal yang biasa untuk terjadi? Sebagai hal yang dapat ditolerir? Apakah demikian?    

Hukum formal yang berlaku saat itu adalah: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Segala bentuk tindakan kejahatan akan dijatuhi hukuman yang setimpal dengan tindakannya tersebut. Ada sebuah negara yang masih memberlakukan hukuman yang demikian, apabila tertangkap mencuri, maka tangannya akan dipotong. Terkesan kejam dan tidak manusiawi, tetapi pemberlakuan hukuman yang demikian mampu membuat warganya menjadi berhati-hati dan mawas diri agar tidak melakukan kesalahan. Namun bagaimana atmosfer kehidupan yang demikian? Apakah dapat dirasakan damai sejahtera apabila dirundung ketakutan pada hukuman yang berlaku? Bagaimana dengan atmosfer kehidupan yang diperintahkan oleh Yesus untuk kita ciptakan? Pada ayatnya yang ke 39, Yesus melarang kita untuk melawan orang yang berbuat jahat kepada kita. Digunakan kata “jangan” di sana. Sama halnya ketika kita mendengar larangan “Jangan mencuri”, “Jangan membunuh”, dan lain sebagainya. “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”. Larangan tersebut tidaklah diberikan sebatas itu. Ketika Yesus menyampaikan larangan tersebut, Yesus juga menyampaikan perintah. Perintah yang tentunya mendukung sebuah larangan yang telah disebutkan sebelumnya. Dikatakan sebagai perintah karena di sana digunakan bentuk imperatif, seperti “berilah”, “serahkanlah”, dan “berjalanlah”. Perintah tersebut diungkap pada ayat 39b sampai dengan ayat 42. Apakah perintah tersebut mudah untuk direalisasikan? Tidak! “Siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”. Adakah yang hobi tampar-menampar? Atau paling tidak, pernah menampar dan ditampar? Kira-kira apa yang menjadi penyebab kita menampar seseorang ataupun kita ditampar seseorang? Apakah karena menjengkelkan? Apakah karena kurang ajar? Apakah karena berkata-kata kurang pantas? Saya teringat saat dulu masih kelas 1 SD, pipi saya pernah ditampar oleh ayah saya dengan menggunakan sandal. Suakiiit, panasss, pipi memerah tapi untungnya tidak berdarah. Mengapa saya ditampar? Karena saya misuh. Satu kata kotor saja membuat sengsara. Pipi menjadi membiru berhari-hari, dan saya pun sampai susah berbicara karena menggerakkan bibir saja menjadi sakit. Tamparan di sini memiliki arti sebagai hukuman, agar saya mengerti bahwa misuh adalah hal yang tidak baik. Apakah tamparan di sini memiliki arti yang sama dengan hal tampar-menampar yang disampaikan oleh Yesus pada ayatnya yang ke 39? Tidak! Sangat berbeda. Perihal tampar-menampar yang disampaikan oleh Yesus adalah terkait dengan orang yang berbuat jahat kepada kita. Orang berbuat jahat pada kita bisa terjadi karena apa saja, tidak harus karena kita terlebih dahulu berbuat jahat kepadanya. Kita ngga ngapa-ngapain saja bisa dijahatin orang kok. Namun juga bukan berarti bahwa kita boleh berpikir atau merasa bahwa diri kita selalu benar, tidak pernah bisa salah, yang salah ya orang lain, yang jahat ya orang lain. Secara psikologis, orang yang terkena tamparan pasti geram. Namun kemungkinan respon terhadap kegeraman itu yang berbeda-beda. Ada yang balas tampar, bahkan membalas lebih keras, ada yang menunduk dan menangis, ada yang diam saja tapi kemudian melaporkan pada pihak lain, dan sebagainya. Tetapi Yesus mengatakan, “berilah juga kepadanya pipi kirimu”. Ditambah lagi dengan contoh lain yakni mengenai beri jubah, berjalan 2 mil, memberi pada orang yang meminta pinjaman. Perintah Yesus bukanlah perintah yang mudah untuk dilakukan, tetapi juga bukan perintah yang mustahil untuk dilakukan. Yesus tidak memerintahkan kita untuk diam saja terhadap orang jahat. Yesus tidak memerintahkan kita untuk pasrah saja terhadap orang yang berbuat jahat pada kita. Yesus memerintahkan lebih dari sekadar diam saja atau pasrah. Yesus memerintahkan kita untuk berbuat kasih pada mereka. Ketika mereka minta baju, kita beri jubah. Ketika mereka meminta kita berjalan satu mil, kita bersedia berjalan dua mil. Ketika mereka meminjam apa yang menjadi milik kita, kita tidak menolaknya. Itu semua adalah bentuk kasih. Kasih yang demikian bukanlah tindakan yang sia-sia, bukanlah tindakan yang bodoh, bukanlah tindakan yang menyengsarakan. “Tapi kan kasih itu perlu ketegasan, kasih itu harus mendidik…” seringkali kita berkata demikian. Yesus berkata “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu…” Apa artinya? Kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, kita tetap dituntut semaksimal mungkin berbuat kasih pada sesama yang tidak berbuat kasih pada kita, namun lebih dari itu, kita harus mendoakan mereka. Wah boro-boro mendoakan mereka, mengingat-ingat saja males!! Memang seringkali itulah yang kita rasakan. Kita cenderung menjauhkan diri dari mereka, karena kita tidak menginginkan mereka berbuat jahat lagi pada kita. Siapa sich yang suka dijahatin orang? Tidak ada! Yesus tahu itu. Oleh karena itu, Yesus memerintahkan kita untuk mendoakan mereka. Ini merupakan bukti bahwa kasih adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan. Lantas, yang dimaksudkan oleh Yesus itu mendoakan yang seperti apa? Mendoakan yang bagaimana? Mendoakan supaya apa? Isi doa yang kita panjatkan pada Bapa mengenai orang-orang yang menganiaya kita tidak berarti bahwa kita sedang menjudge mereka sebagai orang yang jahat, tidak berarti bahwa kita sedang meminta hukuman atau balasan pada Bapa untuk ditimpakan pada mereka, tidak berarti bahwa kita mengucap syukur karena kita tidak jahat seperti mereka, juga tidak berarti bahwa kita mempertanyakan kebaikan Bapa pada mereka yang jahat. Dikatakan pada ayat yang ke 45 bahwa Bapa yang di sorga juga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat, dan menurunkan hujan bagi orang yang tidak benar. Sepertinya kok ngga adil. Inilah bentuk kasih. Kasih tidak pilih-pilih, kasih tidak mengenal batas atau sekat apapun. Kasih lahir dari ketulusan.

Yesus menginginkan kita bersikap dan bertindak melebihi orang lain, melebihi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Terbukti pada ayatnya yang ke-47. Yesus mengatakan, “Apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?” Kita perlu ingat bahwa kita bukanlah manusia yang biasa-biasa saja di mata Bapa di sorga. Kita adalah anak-anak Bapa di sorga. Itu kekhususan kita. Itu keunikan kita. Itu yang spesial dari kita. Oleh karena itu Yesus menuntut bukti nyata dari kekhususan status kita, keunikan, dan kespesialan kita di mata Bapa di sorga. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna…” Perkataan “Aku kan manusia biasa, aku kan bukan malaikat, apalagi Tuhan…” tidak lagi relevan bagi kita sebagai anak-anak Bapa di sorga, karena kita memiliki kemampuan untuk sempurna, sama seperti Bapa kita yang di sorga adalah sempurna.


Makin serupa Yesus, Tuhanku, inilah sungguh kerinduanku
Makin bersabar, lembut dan merendah, makin setia dan rajin bekerja.
Reff:
Ya Tuhanku, kubrikan padaMu hidup penuh dan hatiku seg’nap
Hapuskanlah semua dosaku,
Jadikanlah kumilikMu tetap…



Madiun, 19 Februari 2011


ChiaChara

Kedamaian (akan) Bersamamu...

(Yohanes 14:23-31)


Pada ayat yang ke-23, menarik untuk memperhatikan kata “mengasihi”, walaupun perkataan Yesus ini sudah disampaikan sebelumnya sebanyak dua kali dalam perikop yang sama (ayat 15 dan ayat 21). Apabila merujuk pada bahasa aslinya, yakni bahasa Yunani, maka kata “mengasihi” di sini menggunakan kata agape, bukan philia, ataupun storge. Apa artinya jika digunakan kata agape di sini? Apa itu agape? Kasih yang tulus, yang murni, kasih yang tidak mengharapkan imbalan/balasan, kasih yang tidak lekang oleh waktu, tidak pernah berkesudahan, seperti kasih yang diberikan Allah pada umat manusia. Apakah manusia mampu mengasihi Yesus dengan kasih agape, seperti yang telah Yesus katakan tersebut? Manusia sebenarnya mampu untuk melakukannya, walaupun sukar. Mengapa sukar? Yesus memahami, Yesus mengerti apa yang menjadi pergumulan manusia, termasuk perihal sukarnya mengasihi diriNya dengan kasih agape. Apa yang menunjukkan bahwa Yesus memahami dan mengerti mengenai kesukaran yang dialami manusia ketika mengasihi diriNya dengan kasih agape? Pada ayat ke-23, digunakan kata “jika”. “Jika” di sini merupakan sebuah pengandaian. “Seandainya manusia mengasihi Aku”. Seandainya manusia berhasil mengasihi Yesus dengan kasih agape, maka wujud konkrit seperti apa yang seandainya akan dilakukan oleh manusia? “Ia (manusia) akan menuruti firmanKu”. Jadi, menuruti firman Tuhan merupakan wujud konkret dari sikap mengasihi Yesus. Kalau diperbandingkan dengan bunyi ayat yang berikutnya, yakni ayat yang ke-24, maka dapat dilihat perbedaan yang mendasar. Dikatakan pada ayat tersebut, “Barangsiapa tidak mengasihi Aku (Yesus), ia tidak menuruti firmanKu”. Mengapa tidak digunakan kata “akan”? Manusia dapat dikatakan, dapat dinilai tidak mengasihi Yesus, karena perbuatan yang ditunjukkannya adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan firman, tidak menuruti firman.  Padahal firman yang didengar manusia adalah firman dari Bapa yang mengutus Yesus.

Ayat yang ke-25 menunjukkan bahwa Yesus telah berupaya untuk yang kesekian kalinya dalam mempersiapkan murid-muridNya sebelum diriNya pergi meninggalkan mereka. Apa yang dijanjikan Yesus bagi murid-muridNya? Penghibur, yaitu Roh Kudus. Mengapa Yesus menjanjikan Penghibur? Bukan yang lain? Bayangkan saja ketika kita ditinggal pergi jauh oleh sahabat dekat, atau oleh saudara, atau oleh pacar, atau ditinggal orangtua. Pasti kita merasakan sedih, bahkan barangkali kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan. Biasanya mereka dekat dengan kita, dapat berbincang dengan kita, dapat merangkul atau memberikan pundak ketika kita sedih dan menangis, dapat mendengarkan keluh-kesah kita, dapat menasehati kita, dll. Kini semuanya itu hanyalah kenangan, karena mereka telah pergi jauh. Demikian halnya dengan yang dialami oleh murid-murid Yesus. Tiga tahun bersama-sama dengan Yesus, hidup mengikut Yesus, dekat dengan Yesus. Mereka pasti merasa sedih, gelisah, juga mengalami kegentaran hati. Itu sebabnya Yesus menjanjikan Penghibur bagi mereka. Yesus tahu apa yang diperlukan murid-muridNya, Yesus bukan menjanjikan apa yang mereka inginkan, tetapi Yesus menjanjikan apa yang mereka perlukan, yakni Roh Kudus. Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu dan Roh Kudus juga akan mengingatkan perkataan-perkataan Yesus pada mereka.     

Yohanes menggunakan kata kosmos (“dunia”) sebanyak 78 kali dalam Injilnya. Kadang-kadang istilah itu hanya menunjuk pada dunia dalam pengertian yang netral, tanpa adanya penilaian. Namun pada ayat 27, istilah tersebut memiliki pengertian yang negatif. “Dunia” menunjuk pada semua kuasa (termasuk kuasa keagamaan yang melekat dengan budaya) yang tidak hanya bertentangan dengan Firman Allah tetapi juga melawan Allah. ”Dunia” merepresentasikan hubungan-hubungan di mana pun yang tidak memberikan tempat bagi Firman Allah untuk tinggal. “Dunia” merepresentasikan kuasa-kuasa sosial dan budaya dalam masyarakat yang tidak hanya telah mengorganisasikan diri mereka tanpa Allah, tetapi juga mengacu pada agama sebagai suatu cara untuk memperkokoh perlawanan. Definisi-definisi tersebut cukup mewakili maksud Yesus mempertentangkan apa yang “dunia” berikan bukanlah seperti yang Yesus berikan, yakni “damai sejahtera”.

Apa itu damai sejahtera? Bagaimana caranya agar kita dapat merasakan damai sejahtera pemberian Yesus?

(1) Yesus telah menjanjikan Roh Kudus sebagai Penghibur bagi murid-murid, bagi manusia. Dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani) digunakan kata “parakletos” yang berarti Penolong. Roh Kudus yang adalah Penghibur, Penolong, akan mengajarkan segala sesuatu dan akan mengingatkan semua perkataan Yesus (ayat 26). Apa saja perkataan dan ajaran Yesus bagi manusia? Damai sejahtera pemberian Yesus dapat kita rasakan apabila kita bersedia membuka diri kita pada Roh Kudus yang adalah Penghibur, maupun Penolong bagi kita, apabila kita bersedia untuk diingatkan pada semua perkataan ataupun ajaran Yesus.

(2) Yesus mengatakan, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Mengapa Yesus berkata demikian? Yesus mengetahui dan memahami bahwa murid-muridnya saat itu gelisah dan gentar. Demikian halnya dengan kita di masa kini. Siapa sich yang sama sekali tidak merasa gelisah ataupun gentar dalam hidupnya? Tidak seorang pun yang dapat menghindari kegelisahan maupun kegentaran. Namun, apakah manusia tidak memiliki kontrol atas kegelisahan maupun kegentaran yang dialaminya? Manusia memiliki kontrol terhadap itu semua. Manusia dapat memilih untuk tetap membiarkan kegelisahan dan kegentaran merasuki kehidupannya, ataupun manusia memilih mengusir kegelisahan dan kegentaran dalam hidupnya. Apa buktinya manusia memiliki kontrol untuk memilih tidak gelisah dan gentar hati? Buktinya Yesus mengatakan “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Kata “jangan” biasanya identik dengan sebuah larangan. Ketika Yesus berkata demikian, itu berarti kita memiliki kemampuan untuk mengaktualkannya, hanya saja kemampuan tersebut tidak akan berarti apa-apa apabila tidak didukung oleh kesediaan diri.



Madiun, 5 Februari 2011


ChiaChara

LEBIH DARI KEINGINAN MEMASANG KEMAH

(Matius 17:1-9)

Buat apa kamu membicarakan rahasia Allah Tritunggal dengan kata-kata canggih kalau kamu tidak rendah hati, sehingga menyebabkan kemurkaan Allah? Alasan-alasan yang serba rumit tidak membuat orang menjadi kudus serta berkebajikan, sedangkan hidup yang baik membuat ia disayangi Allah. Aku lebih suka merasakan penyesalan dalam hatiku daripada menjelaskan perasaan itu dengan kata-kata. Seandainya kamu hafal seluruh Alkitab serta tulisan-tulisan para cendekiawan, apa gunanya bagimu kalau tidak disertai kasih karunia Allah? (De Imitatione Christi)

De Imitatione Christi adalah karya klasik yang paling digemari. Pada akhir abad ke-15 karya ini sudah mengalami cetakan ke-99 dan sekarang sudah melampaui cetakan ke-2000. Pandangan-pandangan yang dikemukakan adalah pandangan-pandangan kerohanian Kristen pada umumnya. Karya tersebut mengandung ajakan untuk mawas diri, rendah hati, menyangkal diri, disiplin, mempercayakan diri kepada Allah, dan mengasihi-Nya.

Sebagai pengikut Kristus di masa kini, tidak perlu diragukan lagi bahwa kita mengetahui “Yesus sebagai Anak Allah”, yang kemudian membuat kita ingin mempertahankan kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah. Apakah cukup sampai di sini? Apakah selama ini kita telah menyadari adanya konsekuensi tuntutan di balik “Yesus sebagai Anak Allah”? Kita tergoda untuk mempertahankan kemuliaan Yesus, sama seperti Petrus yang diceritakan dalam perikop Matius 17:1-9, yang tergoda mempertahankan kemuliaan Yesus dengan memasang kemah, yang berarti berhenti dan tinggal dalam kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah. Padahal, kekristenan lebih dari sekadar jaminan rasa aman dan tawaran fasilitas untuk menikmati kemuliaan rohani belaka. Lalu apalagi? Apa yang melebihi hal itu?

Resapi kata demi kata dari De Imitatione Christi… Temukan makna yang jauh melebihi keinginan untuk “memasang kemah”…



Madiun, 5 Maret 2011


ChiaChara

SIAPAKAH YESUS UNTUKKU?

Yesus adalah Sabda –untuk dibicarakan.
Yesus adalah Kebenaran –untuk diceritakan.
Yesus adalah Jalan –untuk dilewati.
Yesus adalah Pelita –untuk dinyalakan.
Yesus adalah Kehidupan –untuk dijalani.
Yesus adalah Cinta –untuk dicintai.
Yesus adalah Sukacita –untuk dibagikan.
Yesus adalah Damai –untuk dinyatakan.
Yesus adalah Orang Lapar –yang harus diberi makan.
Yesus adalah Orang Haus –yang harus diberi minum.
Yesus adalah Orang Kesepian –yang harus disayangi.
Yesus adalah Orang Tercampakkan –yang harus dipedulikan.
Yesus adalah Penderita Lepra –yang luka-lukanya harus dibasuh.
Yesus adalah Orang Jompo –yang harus dilayani.
(Mother Teresa, dari Kalkuta)

Kita sering mengatakan pada diri kita sendiri, pun juga pada orang lain bahwa Yesus adalah teladan bagi hidup kita. Kita berupaya sungguh-sungguh untuk menghayati nilai-nilai yang dianut dan dihidupi oleh Yesus dalam kaitan dengan karyaNya di dunia. Namun, yang menjadi persoalan adalah upaya bersungguh-sungguh tersebut tetap tidak memungkiri adanya pilihan-pilihan lain, yakni nilai-nilai “duniawi”. Ketika kita lebih akrab berelasi dengan Kristus Yesus, maka kita akan mampu menerapkan nilai-nilai dan karakterNya dalam hidup kita. Sebaliknya, apabila kita tidak memiliki relasi atau persekutuan yang akrab denganNya, maka yang kita pilih adalah nilai-nilai “duniawi” yang paling akrab dengan kita.

Siapakah Yesus untuk diri kita secara pribadi? Kenalilah Yesus… berelasilah dan bersekutulah akrab denganNya… sehingga penghayatan terhadap nilai-nilai dan karakter Yesus menjadi nyata dalam hidup kita… bukan sekadar cita-cita, bukan sekadar slogan…


Selamat mengenal pribadi Yesus, selamat berelasi dan bersekutu akrab denganNya!!





Madiun, 12 Maret 2011


*ChiaChara*

Kasih Allah yang Universal

Yesaya 14:24-16:14


Ketika saya mengetikkan kata “kasih” pada mesin pencari Google, muncul sebanyak 132.000.000 web. Kemudian saya menambahkan kata-kata lain sehingga kata-kata yang ada pada mesin pencari Google menjadi “kasih yang universal”, dan muncul sebanyak 5.920.000 web. Kemudian saya tambahkan lagi satu kata sehingga kata-katanya menjadi “kasih Allah yang universal”, dan setelah saya klik “search”, muncul sebanyak 165.000 web. Kalau begitu apa artinya dan apa pentingnya fakta tersebut? Fakta tersebut menunjukkan, atau paling tidak memberi kesan bahwa baik “kasih”, “kasih yang universal”, maupun “kasih Allah yang universal” merupakan hal yang marak untuk dipikirkan, ditulis, diperbincangkan, bahkan diperdebatkan. Tidak terkecuali dengan kita semua yang membaca ini, seberapa sering dalam hari-hari kita, kita memikirkan tentang kasih Allah? Seberapa sering kita mencatat tentang kasih Allah dalam buku kehidupan kita masing-masing? Seberapa sering kita membagikan kisah mengenai kasih Allah pada orang-orang di sekitar kita? Tetapi juga seberapa sering kita meragukan dan mempertanyakan kasih Allah?

Seorang novelis spiritualis terkenal bernama Paulo Coelho, yang karya-karyanya telah mencapai 47 juta copy dan diterjemahkan ke dalam 56 bahasa di dunia, menuliskan demikian dalam karya hebatnya yang berjudul “The Pilgrimage”, “Tuhan bukan pendendam. Tuhan adalah cinta. Bentuk hukuman Tuhan hanya membuat orang yang menghentikan laku cinta agar meneruskannya (laku cinta) kembali.” Serentetan kalimat sederhana yang mampu meng-on-kan pemikiran bahkan perasaan saya. Dan di antara serentetan kalimat tersebut ada tiga kata yang menarik: “Tuhan adalah cinta”. “Tuhan adalah cinta”? Apa maksudnya? Kalau dibahasakan matematis, “Tuhan = cinta”. Apakah dalam klausa “Tuhan = cinta” tersebut berlaku hukum distributif matematis, yang apabila ruas kanan dipindah ke ruas kiri dan sebaliknya akan menghasilkan nilai yang sama? Dengan kata lain, apakah “Tuhan = cinta” sama nilainya “cinta = Tuhan”? Sebuah pertanyaan yang sepertinya menginginkan jawaban “iya” atau “tidak”. Dalam tulisan lain, Paulo Coelho menulis, “Di zaman sekarang, orang menganggap dan menjadikan Tuhan sebagai sebuah konsep yang dapat dibuktikan secara ilmiah.” Betapa tidak, ada berapa banyak orang berupaya memformulasikan dalam kata-kata mengenai Tuhan yang sepaket dengan karya-karyaNya? Barangkali yang saya lakukan sekarang, juga termasuk di dalamnya. Ada berapa banyak orang yang memproyeksikan kejadian-kejadian yang ditulis dalam Alkitab pada kehidupannya ataupun sebaliknya, memproyeksikan pengalaman-pengalaman hidupnya pada kejadian-kejadian yang ditulis dalam Alkitab?  


Dalam perikop Yesaya 14:24-27 yang diberi judul “Ucapan ilahi terhadap Asyur” oleh LAI, memiliki makna penting bahwa Tuhan adalah benar-benar Tuhan yang menguasai sejarah bangsa-bangsa. Perikop ini dimulai dengan (ay. 24) suatu pernyataan sumpah pada diriNya sendiri bahwa apa yang telah Tuhan kehendaki dan rencanakan, pasti akan terlaksana. Tuhan sendiri yang akan bertindak dan mengalahkan tentara Asyur di negeri Tuhan sendiri, yaitu di negeri Yehuda. Mengapa harus demikian? Pada waktu itu, Asyur menganggap dirinya sebagai kerajaan dunia, raja Asyur menjadi sombong dan kejam, Asyur meninggikan diri terhadap Tuhan. Di atas gunung Tuhan, yaitu Sion, Tuhan akan menginjak-injak mereka dan membuat mereka tidak berdaya sama sekali. Demikianlah Tuhan akan berbuat terhadap “seluruh bumi dan bangsa-bangsa”. Suatu peringatan dan kesaksian bagi bangsa-bangsa di bumi, oleh karena (ay. 27) Tuhan telah merancangkan dan tangan Tuhan telah teracung. Kalau memang Tuhan kita adalah benar-benar Tuhan yang menguasai sejarah bangsa-bangsa, maka kalimat yang ditulis Paulo Coelho, “Tuhan bukan pendendam. Tuhan adalah cinta. Bentuk hukuman Tuhan hanya membuat orang yang menghentikan laku cinta agar meneruskannya (laku cinta) kembali.” menjadi masuk akal.


Dalam perikop berikutnya, yakni Yesaya 14:28-32 sarat akan simbol-simbol. Ada ular, ular beludak, dan ular naga terbang. Ketiga simbol tersebut menunjukkan suatu klimaks, menunjukkan bahwa kekuasaan Asyur makin lama makin kuat, diiringi pula dengan makin meningkatnya tekanan dan penindasan terhadap bangsa-bangsa. Kemudian, perhatian ujug-ujug diarahkan kepada keadaan di Yerusalem yang dilindungi oleh Tuhan, suatu gambaran yang berbeda sekali dengan keadaan di Filistea. (Ay. 30) Yang paling hina akan mendapat makanan dan orang-orang miskin akan diam dengan tentram. Kesentosaan tersebut bukan hasil pekerjaan manusia sendiri, melainkan Tuhan yang menciptakannya. Kita harus mengakui bahwa hidup kita adalah sebuah misteri penuh pertanyaan. Kita mengalami diri sebagai makhluk terbatas pun juga tak terbatas. Kalau berbicara mengenai cita-cita dan keinginan, sepertinya kita memang tidak ada batasnya. Tetapi kalau melihat kenyataan dalam upaya meraih cita-cita dan keinginan, kita terbatas. Kita bukan tuan atas hidup kita sendiri. Terhadap fakta dasariah ini, kita harus mengambil sikap. Kita dapat menerima hidup ini sebagai nasib atau sebagai anugerah. Kita dapat merasa dibebani oleh hidup ini, atau kita dapat merasa bahagia. James Petersen mengatakan, “Jika Anda takut dengan masa depan Anda, Anda tidak hidup di masa kini.” Kita harus mengambil sikap dengan bebas. Kalau kita dapat menerima hidup ini sebagai suatu anugerah, maka kita dapat bersyukur kepada Dia, Sang Sumber Kehidupan. Tetapi dalam menerima anugerah, kita tidak pasif. Kita menerima anugerah dengan berperan aktif atas hidup kita. Apa yang sanggup Allah lakukan bagi dunia, juga sanggup terjadi dalam hidup kita asalkan kita mau percaya dan bertindak!     


Perikop berikutnya yakni Yesaya 15:1-9 disajikan dalam bentuk puisi dan merupakan nyanyian ratapan. Di sana dilukiskan situasi panik dan perkabungan sebagai akibat dari pemusnahan kota Ar-Moab yang mendadak, yang membuat seluruh negeri menjadi kalang kabut. Kepanikan dan penderitaan menyebar di seluruh tanah Moab. (Ay. 5) menunjukkan jeritan jiwa nabi yang merasa pedih atas nasib orang-orang Moab. Pertumpahan darah yang hebat karena adanya pembunuhan masal. Orang-orang tidak sempat melarikan diri. Akan tetapi, Tuhan mengatakan bahwa penderitaan tersebut masih belum cukup dan Tuhan masih akan menambah lagi. Berdasarkan penderitaan yang dilukiskan dalam pasal 15 ini, kini orang-orang Moab mengharapkan dan mohon pertolongan dan perlindungan dari Sion di Yehuda. Hal ini memberi suatu harapan bagi bangsa yang tertindas. Sion menjadi tempat perlindungan yang kokoh. Nabi memberi penghiburan pada Moab maupun kepada Yehuda bahwa betapapun kuatnya musuh akan dibinasakan sama sekali. Maka berdasarkan berita eskatologis ini, Yehuda diharapkan tidak ikut menjadi panik atau bersikap kejam terhadap orang-orang Moab yang mengungsi dan mencari perlindungan, karena: Tuhan yang menjadi Pelindung dan Penyelamat bagi orang-orang sengsara dan menderita; keselamatan dan kemuliaan YHWH didasarkan atas kasih setiaNya tidak boleh diragukan. Emosi dan kepedulian nabi yang diungkapkan sedikit banyak mencerminkan sikap Tuhan terhadap orang berdosa. Tuhan sebenarnya tidak menghendaki kebinasaan, melainkan kehidupan.


Sebuah tema yang mendunia, yang mampu menghadirkan 165.000 web melalui mesin pencari Google, yaitu “Kasih Allah yang Universal”. “Universal” sebagai adjective, yang sarat akan influence. Universal, bukan partikular. Kasih Allah itu universal. Dari uraian panjang tadi (di atas), dapat diketemukan 3 (tiga) bukti keuniversalan kasih Allah sebagai sebuah kesimpulan: 

(1) Kasih Allah ada dalam setiap inchi sejarah bangsa-bangsa, dimana secara implisit pula mengandung pemikiran bahwa kasih Allah ada dalam setiap produk akal sehat kita. Akal sehat mampu merekam tiap inchi sejarah yang terukir dalam kehidupan, yang kemudian diabadikan dengan beragam cara.

(2) Kasih Allah hadir melalui kesentosaan, yang diyakini sebagai buah pekerjaan Allah bagi ciptaanNya. Kesentosaan bukan hasil pekerjaan manusia sendiri, melainkan Tuhan yang menciptakannya. Sehingga kalau kita dapat menerima hidup ini secara pro aktif sebagai suatu anugerah, maka kita dapat bersyukur kepada Dia, Sang Sumber Kehidupan. Sebuah pepatah Tiongkok berbunyi demikian, “Tidak ada kemuliaan yang dicapai dengan menjadi lebih baik dari orang lain. Kemuliaan sesungguhnya adalah menjadi lebih baik dari diri sebelumnya.”

(3) Kasih Allah yang tidak dapat diragukan eksistensinya hadir melalui perlindungan dan penyelamatan bagi orang-orang sengsara dan menderita. Siapakah yang masuk dalam klasifikasi atau kategori orang-orang sengsara dan menderita? Semua usaha pembebasan dan penyelamatan memiliki nilai, usaha yang mendorong tumbuhnya hak dan keadilan yang nyata pun memiliki nilai. Menilik keadaan dewasa ini, seringkali ditandai oleh kekacauan, kemelaratan, kesengsaraan. Gubuk reot di kota-kota besar seringkali digusur demi keserasian tata kota. Orang-orang miskin menuntut rasa kemanusiaan dan rasa persaudaraan, tetapi sayang, tuntutan itu dicap sebagai tindakan subversif. Apa artinya bagi kita? Eksistensi kasih Allah juga mampu tercermin dari perjuangan kita demi perkara orang-orang sengsara dan menderita. Lha saya sendiri menderita dan sengsara, kok malah diminta berjuang demi orang lain yang katanya sengsara dan menderita?! Dalam secarik kertas tertulis, “Putri kecilKu, datanglah, antarkan Aku ke lorong-lorong tempat orang-orang yang miskin. Datang dan jadilah cahayaKu. Aku tidak bisa pergi sendiri. Mereka tidak mengenal Aku. Maka mereka tak menginginkan Aku. Engkau datanglah, pergilah ke tengah-tengah mereka, bawalah Aku bersamamu ke tengah-tengah mereka. Engkau akan menderita, tapi ingat bahwa Aku bersamamu. Bahkan jika seluruh dunia menolakmu, ingatlah bahwa engkau milikKu dan Aku hanya milikmu. Jangan takut…” Milik siapakah tulisan tersebut? Dan dialamatkan kepada siapa? Tulisan tersebut ditulis oleh Mother Teresa; dimana dalam tulisan tersebut Mother Teresa menggambarkan dirinya sebagai putri kecil Yesus, yang diminta Yesus untuk berjuang demi perkara orang-orang sengsara dan menderita.

Selamat menyentuh “kasih Allah yang universal” dengan menggunakan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik!!





Bromo 10-Madiun,
4 April 2011 menjelang 5 April 2011



Erchia Chara P. 

Bulan Mengenal dan Mengembangkan Diri #2

Sebuah Refleksi untuk Belajar Berefleksi

Bulan kedua… merupakan bulan yang telah tak henti menghujani saya dengan beragam kekayaan… Saya menjadi menyadari… menyadari bahwa ternyata sembari menapaki perjalanan hidup, tidak dapat tidak membuat saya melihat, menemukan, merasakan, bahkan memiliki beragam kekayaan tersebut… Dalam proses maupun momen melihat, menemukan, merasakan, dan memiliki, sangat sarat dengan perjumpaan… perjumpaan dengan pribadi-pribadi lain yang juga sedang melakukan “lutu” hidup… atau bahkan pribadi (-pribadi) yang memang Tuhan tempatkan untuk menjadi partner saya dalam menapaki “lutu” hidup…

Kalau seusai “perkunjungan stage” (13 Maret 2011 lalu) saya menempelkan pada dinding kamar secarik kertas yang bertuliskan lirik sebuah lagu PKJ yang demikian bunyi liriknya, “Tuhan mengutus kita ke dalam dunia…….. meski dihina serta dilanda duka, harus melayani dengan sepenuh.” akibat dari beberapa pengalaman yang saya anggap, saya nilai, saya pikir, saya kategorikan sebagai “hinaan” dan “duka”, maka ternyata itu malah melemahkan saya… mengapa? Karena dalam kelanjutan menapaki perjalanan hidup, saya menjadi berkecenderungan untuk menganggap, menilai, berpikir, mengkategorikan segala sesuatunya sebagai “hinaan” ataupun “duka”… sehingga saya pun keukeh menganggap diri saya sebagai “pihak yang benar” harus (bertahan dan kuat) melayani dengan sepenuh walau dihina serta dilanda duka… Padahal… itu baru dipandang dari satu perspektif… Bagaimana kalau seandainya saya memang belum melayani dengan sepenuh, belum melayani dengan seluruh keberadaan saya, belum melayani dengan segenap potensi yang saya miliki, belum melayani dengan keutuhan motivasi, belum melayani dengan perasaan murni, sehingga membuat saya (pantas) untuk “dihina” ataupun “dilanda duka”?? Nah lohh… Terlalu negative thinking kah?? Bukankah memang Tuhan sebagai Sang Pengutus selalu ada untuk menopang, untuk memampukan, untuk menguatkan di kala saya sedang (berpikir bahwa saya) dilanda duka ataupun dihina?? Bukankah penyertaan dan perlindungan Sang Pengutus yang saya rasakan di setiap inci kehidupan merupakan bukti nyata bahwa Sang Pengutus mengutus saya untuk menapaki perjalanan hidup yang sepaket dengan “hinaan” dan “duka”?? Bagaikan keping logam dengan kedua sisinya… Merasakan penyertaan, perlindungan, topangan, kekuatan dari Sang Pengutus di kala mendapat “hinaan”, di kala “dilanda duka”… Pun juga was-was jangan-jangan saya-nya yang lebay dengan menganggap, menilai, berpikir, dan mengkategorikan hal-hal tertentu sebagai “hinaan” ataupun “duka”…     

Padatnya kegiatan-kegiatan membuat saya terus berjalan… berjalan… dan berjalan… Hal tersebut menyadarkan saya bahwa lamanya “t” (rumus fisika: waktu) melakukan perjalanan hidup tergantung pada “v” (rumus fisika: kecepatan). Semakin sibuk, semakin tidak terasa… sudah melewati satu bulan lagi… Tetapi apakah hanya melewati dan menjalani tanpa ada pemaknaan khusus terkait dengan visi saya?? Di bawah salib Yesus ‘ku ingin berhenti yaitu cadas yang teguh, pelindung yang letih. Tempat musafir berteduh di jalan yang berat; naungan di panas terik bagiku yang penat merupakan sebuah lagu yang sering dinyanyikan saat persekutuan, kebaktian doa, bahkan dinyanyikan saat kebaktian hari Minggu. Namun… Kesibukan dan rutinitas membuat saya sebagai seorang musafir yang melakukan “lutu” hidup lupa (atau pura-pura lupa??) untuk melakukan upaya bersengaja berhenti di bawah salib Yesus… Padahal Yesus selalu menyediakannya bagi para musafir untuk berteduh, untuk bernaung, sebagai sebuah undangan, sebagai sebuah kesempatanLagi-lagi saya menjadi terjerumus pada pemikiran bahwa saya sedang letih, saya sedang berjalan menapaki “lutu” yang berat, saya sedang penat, dst… Jangan-janganitu semua hanya legitimasi pribadi supaya saya tidak “berjuang” atau “bekerja” lebih keras, lebih giat, lebih tekun, lebih sungguh-sungguh… Sebuah kalimat dalam novel spiritualis karya Paulo Coelho pernah “terekam” dalam memori saya, demikian bunyinya, “Orang-orang sibuk selalu memiliki cukup waktu untuk semua hal. Mereka yang tidak pernah melakukan apapun selalu merasa letih dan tidak memperhatikan pekerjaan mereka yang berbeban sedikit. Mereka sering mengeluh hari terlampau singkat. Sebenarnya, mereka hanya takut berjuang dengan sekuat tenaga…  Dua bulan yang menyenangkan, sekaligus melelahkan… Kini dan di sini… sudah, sedang, dan akan merasakan (se)kelumit kehidupan berjemaat… Lalu bagaimana? Apakah (beragam) pilihan dan keputusan penuh kesadaran sudah merupakan langkah (-langkah) untuk menggapai visi hidup saya?    

Kembali berbicara tentang kesibukan… Lagi-lagi ini hanyalah satu perspektif… Dikatakan pada saya, baik tersirat maupun tersurat, baik secara verbal maupun bahasa tubuh, “Kamu itu sibuk apa sich??” Tidak pernah ada yang tahu (atau tidak mau tahu??) bahwa “pelayanan bayangan” lebih tinggi frekuensinya dibanding dengan pelayanan yang terlihat oleh indra penglihatan dan terdengar oleh indra pendengar (seperti: khotbah). Bahkan… beberapa orang juga mendefinisikan khotbah sebagaikhotbah” bila audience-nya adalah orang-orang dengan kategori usia dewasa yang hadir dalam kebaktian Umum 1 dan 2. Dengan kata lain, kebanyakan[1] anggota jemaat menganggap Kebaktian Pemuda dan Kebaktian Pos Caruban sebagai kebaktian “level dua” sehingga segala kelengkapan dan persiapan kebaktian sedikit dikesampingkan (tiba-tiba tidak ada pemandu pujian, pemain musik tidak berlatih, jumlah penatua yang bertugas hanya dua orang, dll). Pemahaman yang demikianpun ternyata sukar untuk dibuka sekatnya menjadi pemahaman yang sedikit lebih luas dari itu… Supervisorpun meng-iya-kan perihal tersebut… sudah menjadi sebuah pergumulan di sini untuk mengubah pemahaman dan persepsi anggota jemaat… ini barulah salah satu dari sekian banyak pergumulan terkait dengan pemahaman dan persepsi… Lalu, bagaimana menerjemahkan produk kognisi ke dalam tindakan nyata? Beragam pembinaan di masa lalu terkait dengan esensi teologis sebuah kebaktian belum mampu menggoyahkan sekat-sekat pemahaman dan persepsi anggota jemaat… Lantas… proyek (kesekian) yang diusulkan oleh supervisor untuk digarap ini harus dimulai dari mana? Siapa saya di sini? Jangan-jangan pemahaman dan persepsi saya pun tidak lebih luas dari pemahaman dan persepsi anggota jemaat (dalam lingkup yang lebih general, bukan hanya soal kebaktian). Jangan-jangan kaum akademisi sudah merasa pintar dan lebih tahu? Dan sekali lagi mengantarkan saya pada pertanyaan: siapakah saya di sini? Haruskah saya (sebagai pihak yang) mengungkapkan, memberikan penjelasan/ulasan, mengutarakan argumen terkait dengan hal-hal yang ada dalam kehidupan berjemaat?     

Berjalan… berjalan… dan terus berjalan… Melihat, menemukan, merasakan, dan memiliki kekayaan-kekayaan… Bagi saya, ini semua adalah kekayaan yang tidak ternilai… dan tidak tergantikan… Dengan tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja ini semua dianggap, dinilai, dikategorikan (oleh orang lain) sebagai bukan kekayaan… Berbagi kekayaan… mampu memperkaya kekayaan itu sendiri… Namun, untuk apa kesemua kekayaan tersebut? Apakah sebagai bekal melanjutkan “lutu” hidup? Lantas, bagaimana mengelolanya agar dapat berfungsi sebagai bekal??  

Di jalanku ‘ku diiring oleh Yesus, Tuhanku.
Apakah yang kurang lagi, jika Dia Panduku?
Diberi damai sorgawi, asal imanku teguh.
Sukaduka dipakaiNya untuk kebaikanku;
Sukaduka dipakaiNya untuk kebaikanku.
(K J 408:1)

Apalagi yang kurang bila yang menjadi Pandu hidup adalah Yesus sendiri?? Apalagi yang kurang?? Eits… Apakah ini sebuah pegangan hidup…? Ataukah sebuah pelarian…? Mengingat bahwa lirik-lirik lagu-lagu yang dapat “berbicara” pada saya ditentukan pula oleh suasana hati maupun pergumulan yang telah dan sedang dihadapi… Entah sebuah pegangan hidup ataukah pelarian, namun itu tetap kekayaan terindah dalam hidup… dipandu oleh Yesus saat menapaki “lutu” hidup… Dengan selalu mengingat bahwa kepekaan untuk menyadari dan merasakan panduan Yesus itulah yang menjadi PR seumur perjalanan… Selamat melanjutkan “lutu” hidup, Erchia… J dengan tak henti melatih diri untuk peka terhadap panduan Yesus…   




Jl. Bromo 10, Madiun,
12 April 2011
Erchia Chara


[1] Menurut hasil wawancara dengan beberapa anggota jemaat didukung oleh informasi dari supervisor.